Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Kecam Penyerangan Di Ambon
Friday, May. 20, 2005 Posted: 10:12:03AM PST

Sekitar 50 mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon dan Senat Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku menggelar unjuk rasa di halaman Polda Maluku, Rabu, 18 Mei 2005. Mereka memprotes penyerangan terhadap Brimob yang terjadi di Dusun Wailisa, Senin, 16 Mei, merupakan ulah teroris. Tindakan itu dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para mahasiswa itu menolak dan menentang segala aksi teror dan gerakan separatis di Maluku. Menurut mereka, penyerangan itu hanya memperkeruh stabilitas keamanan di daerah. Karena itu, mereka mendesak Kepala Polda Maluku Brigjen (Pol) Adityawarman mengusut kasus-kasus teror yang terjadi di Maluku secara arif dan bijaksana.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Maluku Komisaris Endro Prasetyo di Ambon, menyatakan kepada pers, sebagian anggota kelompok penyerang pos Brimob Kaltim di Dusun Wailisa itu juga terlibat sejumlah aksi teror lainnya di daerah itu. Aksi itu antara lain kasus penembakan di Karaoke Vila, Desa Hative Besar, Kota Ambon, 15 Februari 2005, dan penembakan Kapal Motor Lai-lai VII di Perairan Leksula, Buru Selatan, awal Februari 2005.
Anggota kelompok penyerangan itu, kata Prasetyo, berada dalam satu jaringan yang tersebar di berbagai daerah. Namun, tidak setiap anggota kelompok penyerangan di satu tempat juga terlibat dalam penyerangan di tempat lain.
Meski demikian, Prasetyo enggan menyebutkan kelompok mana yang terlibat dalam penyerangan tersebut, termasuk apakah mereka termasuk kelompok-kelompok perjuangan yang terlibat selama konflik di Ambon beberapa tahun silam. Kelompok itu melakukan sejumlah teror untuk membuat situasi dan kondisi Maluku tidak aman.
"Hasil penyidikan sampai sejauh ini belum mengarah kepada kelompok tertentu. Saat pemeriksaan sudah selesai kita akan ketahui semuanya, termasuk siapa yang melatih mereka sehingga bisa menggunakan senjata," katanya.
Prasetyo juga tidak menyebutkan jumlah tersangka pelaku penyerangan yang sudah ditangkap. Demikian pula terhadap pelaku penembakan di Karaoke Vila yang sebagian sudah tertangkap dan terkait dengan kasus penyerangan pos Brimob Kaltim itu. Namun ia memastikan beberapa pelaku sudah ditangkap dan masih dilakukan pengembangan.
"Saya tidak bisa menyebutkan dulu jumlah dan identitas pelaku karena masih harus dilakukan penyidikan secara tuntas," katanya. Mengenai saksi, Prasetyo mengatakan, hingga Rabu siang telah diperiksa 10 orang. Status saksi dapat saja berubah menjadi tersangka jika ditemukan keterlibatan mereka dalam sejumlah aksi teror.
"Mereka (saksi) sering diteror oleh kelompok ini, juga keluarga mereka," kata Prasetyo.
Nofem Dini
|