Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5 : 37).
Search
Arsip Berita
Web
 
Advanced Search
Enhanced by
Home
Arsip
Dunia
Gereja
Ministri
Misi
Pendidikan
Budaya
Masyarakat
Hidup
Editorial
Arsip
Mata Kristiani Pos
Suara Bangsa
Customer Service
Media Kit
Bookmark
Interaktif
Hubungi Kami
Kristiani Pos
Tentang Kami
Syarat dan Kondisi
Administrasi
 
 
Home > Editorial  > Columnists
 

Pelayan Lintas Waktu dan Ruang

Sunday, Jul. 4, 2004 Posted: 1:32:12AM PST


Warning: getimagesize() [function.getimagesize]: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /home2/christianpostid/php_functions/functions.php on line 443

Warning: getimagesize(http://id.christianpost.com/upload_static/editorial/editorial_10_0.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: Success in /home2/christianpostid/php_functions/functions.php on line 443

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) periode 2000-2005 ini seorang pekerja keras yang bersifat timeless dan spaceless. Baginya waktu dan ruang adalah hampa selama bekerja. Tiada hari tanpa berpikir dan menulis. Ide dan gagasan mengalir terus bagai gelombang susul menyusul di kepalanya. Waktu dan tempat seakan tidak bisa mengaturnya jika sedang mencari atau sedang menemukan sesuatu ide.

Mengenai waktu, baik siang maupun malam bahkan hari libur seolah tiada baginya. Begitu pula soal tempat, baik di rumah, di kantor, bahkan di mobil sekalipun sama baginya dalam bepikir. Begitulah barangkali gambaran yang paling tepat dari Pendeta Natan Setiabudi STh, PhD, jika memperhatikan kesehariannya.

Natan Setiabudi kelahiran desa Blabak, Magelang, Jawa Tengah tanggal 30 Augustus 1940 adalah alumnus Sekolah Tinggi Theologia Jakarta, 1960-1966, dengan gelar S.Th. (lulus dengan predikat "cum laude") dan Boston College Graduate School, USA, 1994, dengan gelar Ph.D.

Natan beristrikan Elizabeth Anantatedjana dan memiliki tiga putra: Danny Setiabudi, George Citrawira Setiabudi, Gita Kristi Setiabudi. Ketiga anak bersama mantu dan cucunya menetap di Amerika Serikat.

Pengerja GKI SW Jabar ini, mencuat kepermukaan ajang nasional karena sikap, gagasan dan pemikiran-pemikirannya yang menurut beberapa orang tidak klise tapi memiliki roh modernisasi moderat, yang mampu menembus bidang untuk melakukan perubahan dan pembaharuan.

Ketua Umum PGI masa layanan 2000-2005 dan Koordinator Forum Komunikasi Lembaga-Lembaga Gerejawi Aras Nasional (Forum LGAN), ini seorang yang tenang, cerdas, berwibawa dan berwawasan luas. Dia menguasai banyak persoalan di mana dan kapan saja. Baginya tiada hari tanpa berpikir dan menulis. Ide dan gagasan mengalir terus bagai gelombang susul-menyusul darinya. Karena kebiasaannya yang selalu mencari ide itu sehingga tidak jarang kelihatan apabila ada yang menegurnya, dia tidak segera menyahut bahkan sepertinya dia berada dalam keadaan ‘linglung’ karena pikirannya sedang bekerja keras mencari pemecahan persoalan yang belum bisa diterabasnya.

Pendeta yang duduk sebagai dewan penasihat pada organisasi ‘Jala Damai’, suatu organisasi hukum yang ingin membantu para pekerja Tuhan yang bermasalah dengan hukum, ini dalam perjalanan hidupnya sesekali terbentur juga pada beberapa persoalan. Seperti, adanya gosip-gosip yang kurang enak mengenai dirinya. Tapi gosip-gosip miring itu tidak pernah ditanggapinya secara berlebihan. Untuk hal-hal seperti itu dia hanya mengatakan, "Jangan layani orang bodoh agar kamu tidak ikut bodoh".

Dalam hidup kesehariannya, bila diperhatikan, pendeta ini tidak pernah memakai jam tangan alias arloji. Kebiasaan itu dikarenakan dirinya memang seorang pekerja keras yang bersifat timeless dan spaceless. Waktu dan uang seolah hampa baginya selama dia bekerja. Jadi, tidak mengherankan bila melihatnya suatu ketika dalam suatu perjalanan, tiba-tiba menghentikan mobilnya dan segera mencari sehelai kertas apa saja, kemudian menulis ide yang baru muncul dalam benaknya.

Next Page: 1 | 2 | 3 |


Yunita Tjokroadinata

 
Dari Editorial  
Cabut SKB No.1/1969
Sungguh tak betul, apa yang dikatakan segelintir orang, bahwa gereja tak bersosialisasi dengan masyarakat. Oleh karenanya, adalah wajar bila warga merusak gereja. Andai mengikuti argumen di atas, gereja ...... | more
E-mail
Print-friendly version
Headlines Hari ini
  Tuesday, Apr. 18 2006 1:31:08PM PST
PGI Anjurkan SKB Dua Menteri Diujicobakan
Paus Serukan Penyelesaian Damai di Irak
"Pastor Amerika" Dapat 'Greatest Honor'
Pesan Paskah 2006 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Paus Serukan Penyelesaian Damai di Irak
Terpopuler
Terjadinya Penganiayaan Anak Kecil di Gereja Pondok Daud Dibantah
Sidney Mohede:Belajar dari Billy Graham
Penembokan Sekolah Sang Timur
Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang