Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5 : 37).
Search
Arsip Berita
Web
 
Advanced Search
Enhanced by
Home
Arsip
Dunia
Afrika & Timur Tengah
Amerika
Asia-Pasifik
Eropa
Gereja
Ministri
Misi
Pendidikan
Budaya
Masyarakat
Hidup
Teknologi
Editorial
Customer Service
Info Iklan
Media Kit
Bookmark
Interaktif
Hubungi Kami
Kristiani Pos
Tentang Kami
Syarat dan Kondisi
Administrasi
 
 
Home > Asia-Pacific  > Russia
 

Ribuan Warga Moskwa Turun ke Jalan

Tuesday, Sep. 7, 2004 Posted: 5:12:33PM PST


Presiden Rusia Vladimir Putin (Tengah) dan para anggota pemerintahan mengheningkan cipta sejenak pada awal pertemuan mereka di Moskow, 6 September 2004. Rusia berduka pada hari Senin atas kematian ratusan anak dan orang dewasa dalam drama tawanan terburuk, dengan kritikan yang ditujukan terhadap cara penanganan Putin dan pasukan keamanannya dalam mengatasi krisis tersebut. Reuters/itar-tass/kremlin press service.

Orang-orang menaruh bunga di luar kantor perwakilan Ossetia Utara di pusat Moskow, 6 September 2004. (Foto:reuters/ Alexander Natruskin

Diperkirakan 100.000 orang ikut bergabung dalam demonstrasi di Mos- kwa yang berlangsung hari Selasa (7/9) ini sebagai tanda simpati bagi 335 orang yang tewas dalam krisis penyanderaan di Sekolah No 1, Beslan, Ossetia Utara, yang berbatasan dengan Chechnya.

Penyanderaan yang berlangsung selama tiga hari itu berakhir dengan meletupnya pertempuran sengit antara pasukan khusus Rusia dan para penyandera yang dituding sebagai para pemberontak separatis Chechnya.

Para politikus oposisi menuding Presiden Rusia Vladimir Putin gagal menjamin keamanan bagi warga Rusia. "Apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini tidak bisa disebut selain perang," ungkap Igor Bobrin, seorang olahragawan Rusia.

"Kita harus berdiri bahu-membahu," ia menambahkan. Sejumlah televisi juga menyiarkan aksi unjuk rasa yang melibatkan puluhan ribu warga tengah berlangsung di St.Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia. Bendera setengah tiang dikibarkan di seantero Rusia menandai hari perkabungan nasional tersebut.

Sejumlah kritik mengatakan, Putin gagal memenuhi janjinya saat ia pertama kali memegang tampuk kekuasaan pada tahun 2000 lalu, yakni mengakhiri pemberontakan separatis di Chechnya. Mereka juga menuding pasukan khusus Rusia telah bertindak ceroboh saat menyerbu sekolah dengan dalih menyelamatkan para sandera, sehingga menimbulkan baku tembak melawan para penyandera.

Dua minggu sebelumnya, para pemberontak Chechnya, yang sudah 10 tahun melancarkan perlawanan demi kemerdekaan Chechnya, juga dituding mendalangi jatuhnya dua pesawat Rusia sehingga menewaskan 90 orang. Aksi bom bunuh diri di stasiun metro Moskwa, sehingga 9 orang tewas, juga dituding ulah para pemberontak Chechnya.

Keamanan Diperketat

Di Ossetia Utara, yang mayoritas berpenduduk Kristen Orthodoks, pasukan Rusia memperketat keamanan di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Chechnya yang mayoritas Muslim serta negara bagian lainnya di wilayah Kaukasia tersebut. Sekjen NATO, Jaap de Hoop Scheffer mendesak agar dilakukan pertemuan antara negara-negara anggota NATO dengan Rusia guna menyelesaikan isu Beslan.

Chechnya sendiri telah berulang kali menjadi isu tajam dalam kerja sama antara Rusia dengan sejumlah negara Barat, yang mempertanyakan catatan hak asasi manusia Moskwa dalam memerangi separatisme di wilayah itu. Uni Eropa menyatakan solidaritas mereka, Senin (6/9), setelah Moskwa menanggapi dengan sangat berang permintaan Belanda, Ketua Kepresidenan UE, untuk dilakukannya penyelidikan atas pembunuhan seiring berlangsungnya penyerbuan pasukan khusus Rusia.

Perdana Menteri Prancis, Jean-Pierre Raffarin juga menyataka solidaritas mereka. "Namun kami juga ingin memperoleh semua informasi yang penting. Kami ingatkan Rusia setiap waktu agar menghargai hak asasi manusia," ungkap Raffarin.

Media Rusia hingga kemarin dengan keras mengecam kebijakan Putin. Mereka mengatakan, langkah Putin mengaitkan pejuang pemberontak di Chechnya dengan terorisme internasional hanyalah upaya menutup-nutupi kesalahannya sendiri karena menerapkan kebijakan yang sama sekali tidak kompromis dan enggan bernegosiasi dengan pemberontak separatis Chechnya. "Anda tidak bisa bersembunyi di balik tema terorisme internasional," kata Vladimir Ryzhkov, anggota legislatif liberal, dalam tulisannya di harian Nezavisimaya Gazeta.

Next Page: 1 | 2 |



 
Dari Asia-Pacific  
Pemerintah China Mengecam Vatikan karena Undang Empat Uskup
Pemerintah RRC yang melarang warga Katoliknya mengakui Paus, menolak sebuah undangan kepada empat uskup China ke Roma, dengan mengatakan hal itu menunjukkan tidak menghormati Beijing. Beijing ...... | more
E-mail
Print-friendly version
Headlines Hari ini
  Friday, Nov. 11 2005 4:07:36PM PST
Tokoh Gereja: Posisi Tawar Umat Kristen Rendah
Kelompok Teroris Diduga Sedang Merancang Teror Malam Natal
Gereja Se-Indonesia Bahas Penutupan Tempat Ibadah
Pdt Damanik Minta Inggris Tekan RI
TPKB Minta SKB Serta Revisinya Dicabut [Photo]
Terpopuler
Terjadinya Penganiayaan Anak Kecil di Gereja Pondok Daud Dibantah
Sidney Mohede:Belajar dari Billy Graham
Penembokan Sekolah Sang Timur
Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang