Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5 : 37).
Search
Arsip Berita
Web
 
Advanced Search
Enhanced by
Home
Arsip
Dunia
Afrika & Timur Tengah
Amerika
Asia-Pasifik
Eropa
Gereja
Ministri
Misi
Pendidikan
Budaya
Masyarakat
Hidup
Teknologi
Editorial
Customer Service
Info Iklan
Media Kit
Bookmark
Interaktif
Hubungi Kami
Kristiani Pos
Tentang Kami
Syarat dan Kondisi
Administrasi
 
 
Home > Asia-Pacific  > General
 

Pendidikan Katolik Tegaskan Relevansi Pendidikan Perdamaian

Tuesday, Sep. 7, 2004 Posted: 5:12:31PM PST

Para pendidik Katolik Thailand membahas perlunya pendidikan perdamaian dan cara penerapannya di sekolah-sekolah yang dikelola Gereja.

Pastor Bunlert Phromsena, ketua panitia seminar 2004 dari Dewan Pendidikan Katolik Thailand (DPKT), mengatakan kepada 368 imam, kaum religius pria dan wanita, dan umat awam yang berkarya di sekolah-sekolah Katolik bahwa konflik dan kekerasan banyak terjadi di negara itu baik dalam lingkup keluarga, politik, agama, masyarakat, maupun ekonomi.

Imam itu menyampaikan salah satu dari sejumlah ceramah utama pada seminar tahunan yang diselenggarakan oleh DPKT pada 22-25 Agustus di Pattaya, 100 kilometer tenggara Bangkok, itu. Ceramah dari imam itu dan ceramah-ceramah lainnya menyuarakan kembali rekomendasi untuk pendidikan perdamaian yang dibuat pada pertemuan para pendidik Katolik Asia di Colombo pada bulan Maret.

Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Ubon Ratchathani itu mengatakan, Thailand tidak imun terhadap gerakan-gerakan keras. Ia menyinggung soal krisis yang terjadi di Propinsi Songkhla, Narathiwat, Pattani, dan Yala yang terletak di bagian paling selatan. Di tempat-tempat itu, lebih dari 300 orang terbunuh tahun ini dalam kekerasan yang, menurut pemerintah, merupakan tanggung jawab dari kaum separatis Islam.

Dengan menyebut keserakahan sebagai penyebab terjadinya konflik, ia mengatakan, perekonomian kapitalis liberal yang menyebar luas meningkatkan persaingan dan materialisme. Ini mendorong orang-orang kaya dan berkuasa untuk mengambil keuntungan dari orang lain, khususnya kaum miskin.

Ia juga menyebut bentuk-bentuk konflik lainnya, mulai dari perselisihan dalam keluarga -- antara orang tua dan anak-anak remaja -- hingga perselisihan antara kelompok-kelompok etnis dan komunitas mayoritas, dan di kalangan partai-partai politik dan agama.

"Hanya orang-orang yang menumbuhkan perdamaian dalam diri mereka sendirilah yang bisa mengubah perilaku mereka, sehingga bisa menciptakan perdamaian dalam masyarakat," kata Pastor Bunlert. Ia mengusulkan agar sekolah-sekolah harus memperkenalkan proses penumbuhan perdamaian dalam diri para siswanya.

Kaum muda "punya potensi yang besar" untuk menciptakan perdamaian dalam masyarakat, dan sekolah-sekolah harus membantu mereka mengembangkan potensi ini dengan belajar mengubah perilaku mereka, jelas Pastor Bunlert. Ia menggambarkan upaya untuk mengembangkan potensi itu sebagai inti dari pendidikan perdamaian.

ucan




 
Dari Asia-Pacific  
Pemerintah China Mengecam Vatikan karena Undang Empat Uskup
Pemerintah RRC yang melarang warga Katoliknya mengakui Paus, menolak sebuah undangan kepada empat uskup China ke Roma, dengan mengatakan hal itu menunjukkan tidak menghormati Beijing. Beijing ...... | more
E-mail
Print-friendly version
Headlines Hari ini
  Friday, Nov. 11 2005 4:07:36PM PST
Tokoh Gereja: Posisi Tawar Umat Kristen Rendah
Kelompok Teroris Diduga Sedang Merancang Teror Malam Natal
Gereja Se-Indonesia Bahas Penutupan Tempat Ibadah
Pdt Damanik Minta Inggris Tekan RI
TPKB Minta SKB Serta Revisinya Dicabut [Photo]
Terpopuler
Terjadinya Penganiayaan Anak Kecil di Gereja Pondok Daud Dibantah
Sidney Mohede:Belajar dari Billy Graham
Penembokan Sekolah Sang Timur
Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang