Interaktif

STT Jakarta: Menjadi Batu Hidup (1)


Reporter Kristiani Pos

Posted: Oct. 01, 2004 01:42:47 WIB

RP Borrong

Untuk merayakan Dies Natalisnya yang ke-70, Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta memilih tema ''Menjadi Batu Hidup''. Menjadi batu hidup berarti kesediaan untuk dipakai sebagai pondasi dan bahan bangunan dari masyarakat Indonesia yang terus menerus berusaha mencapai tujuan nasionalnya, masyarakat berkeadaban (civil society) yang adil dan makmur.

Sebagai lembaga pendidikan yang telah makan asam garam selama 70 tahun berkiprah, STT Jakarta ingin introspeksi dan retospeksi serta menanyakan pada dirinya sendiri tentang visi dan misi kehadirannya di tengah masyarakat Indonesia.

Introspeksi dan retrospeksi itu sangat diperlukan mengingat perjalanan yang begitu panjang. Apakah arah dan tujuan yang telah digariskan pada waktu pendiriannya masih cukup relevan dengan kekinian gereja dan masyarakat Indonesia?

STT Jakarta merupakan sekolah teologi tertua di Indonesia. Didirikan tanggal 9 Agustus 1934 di Bogor dengan nama Hoogere Theologische School (HTS) oleh Genootschap voor hooger theologisch onderwijs in Nederland Indie (Lembaga Perguruan Tinggi Theologia di Hindia Belanda).

Yayasan itu sendiri didirikan oleh Central Comite Depok. Central Comite Depok ditugasi oleh Indische Kerk dan Lembaga Zending Belanda yang bekerja sama Zending Barmen untuk menangani pendirian HTS tersebut di Indonesia, karena pusat-pusat zending berada di Eropa.

Central Comite Depok adalah lembaga bentukan gereja-gereja di Belanda yang mendirikan Seminarie Depok tahun 1878 yang disebut sebagai Seminarie van Inlandsche zendelingen. Seminarie Depok dimaksudkan untuk mendidik anak-anak pribumi menjadi pembantu zending (inlandsche hulpzendeling).

Mereka dididik menjadi guru dan diberikan pengetahuan tambahan untuk memberitakan Injil dan sekaligus untuk menjadi penghantar/pemimpin jemaat (voorganger).

Seminarie Depok ditutup tahun 1926 karena hampir di semua pusat-pusat gereja di Indonesia telah berdiri seminarie theologia yang mempunyai fungsi yang sama. Itu sebabnya ketika HTS didirikan, Central Comite Depok merasa bahwa pendirian sekolah itu sejalan dengan cita-cita mereka untuk mendidik pemuda-pemuda pribumi untuk dipersiapkan menjadi pemimpin gereja-gereja pribumi di Indonesia.

Hanya dua tahun di Bogor, HTS pindah ke Jakarta (Batavia) tahun 1936, dan menempati lokasinya yang sampai sekarang menjadi lokasi STT Jakarta, yaitu Jl Proklamasi No 27 Jakarta Pusat. HTS didirikan untuk menjadi tempat pendidikan teologi dan kependetaan bagi pemimpin gereja di Indonesia.

Karena itu, sejak awal ciri lembaga ini adalah ekumenis (mengutamakan keesaan/kesatuan gereja-gereja) dan kontekstual (berteologi dalam konteks Indonesia dan Asia pada umumnya). Kedudukannya di Jakarta (Batavia) yang kemudian menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, mendukung ciri itu. Sekolah ini menerima mahasiswa dari berbagai gereja dan daerah di Indonesia.

Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945) terpaksa HTS ditutup. Dosen-dosennya ditawan sehingga perkuliahan terhenti. Baru dibuka kembali tahun 1946 dan sejak itu sekolah ini menerima penanganan baru yaitu ketika pengurusannya diserahkan dari tangan para Zendeling kepada gereja-gereja di Indonesia.

Sejak saat itu dirasakan betapa pentingnya mendidik sebanyak mungkin pemuda Indonesia menjadi pemimpin gereja-gereja di Indonesia yang ditinggalkan oleh tenaga zending dari Eropa.

Sejalan dengan itu pula, penanganan HTS sebagai lembaga pendidikan teologi setingkat pendidikan universitas terus dikembangkan. Cita-cita itu baru terwujud ketika terjadi perubahan dari HTS (Sekolah Theologia Tinggi) menjadi Sekolah Tinggi Theologia setingkat pendidikan universitas.

Hal itu terjadi tanggal 27 September 1954, dan tanggal tersebut diambil sebagai tanggal peringatan berdirinya STT Jakarta. Itu sebabnya STT Jakarta merayakan dies natalisnya pada tanggal 27 September dan bukan tanggal 9 Agustus.

Dua Perubahan

Ada dua perubahan besar yang terjadi sejalan dengan perubahan HTS menjadi STT, yaitu untuk pertama kalinya mahasiswa diterima dari lulusan SMA sederajat dan bahasa pengantar adalah Bahasa Indonesia menggantikan Bahasa Belanda.

Jabatan pemimpin, khususnya rektor (kini ketua) secara bergiliran dipegang oleh dosen-dosen Indonesia, walaupun masih ada dosen-dosen dari luar negeri.

Tahun 1958 STT Jakarta membuka program pascasarjananya sendiri (disebut studi lanjutan) dan sejak tahun 1966 bergabung dengan sekolah-sekolah teologia di Asia Tenggara, menyelenggarakan program pascasarjana bersama, semacam konsorsium bersama. Program itu cukup berhasil mengalihkan arus studi lanjutan di bidang teologi dari negara-negara Eropa dan Amerika ke kawasan Asia.

Tahun 1980 STT Jakarta membuka program Pembinaan Warga Gereja. Program tersebut dibuka sebagai bagian dari pelayanan STT Jakarta kepada gereja-gereja yaitu dalam bentuk pembinaan dan pelatihan berbagai pengetahuan dan keterampilan praktis untuk warga gereja, khususnya yang berkecimpung dalam pelayanan di gereja sebagai majleis jemaat, guru katekisasi, guru sekolah minggu dsb.

Program ini sampai sekarang masih terus berlangsung dalam bentuk baru yang disebut Program Pembelajaran Warga Gereja (PPWG).

Sejak tahun 1998 sudah dibuka program Magister Ministri untuk menampung para sarjana dari berbagai disiplin yang ingin belajar teologi. Direncanakan tahun 2004 ini akan dibuka pula program Doktor Ministri untuk memberikan kesempatan kepada para pendeta jemaat menambah wawasan teologi dan keterampilan pelayanan di bidang teologi.

Tahun 2000 STT Jakarta memasuki sejarah baru sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mendapat akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional. Hal ini dilakukan sejalan dengan kesepakatan Perhimpunan Sekoplah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) yang menghendaki agar disiplin ilmu teologi dimasukkan ke dalam ensiklopedia keilmuan di Indonesia.

Sebagai konsekuensi dari pengakuan tersebut maka perguruan tinggi teologi sudah sewajarnya diakreditasi oleh BAN dalam kordinasi dengan Ditjen Pendidikan Tinggi.

(bersambung)

Penulis adalah Ketua STT Jakarta

SP

Next Story : Gereja Perlu Pro-Aktif Dalam Menentukan Arah Masa Depan Bangsa

Terpopuler

Headlines Hari ini