Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5 : 37).
Search
Arsip Berita
Web
 
Advanced Search
Enhanced by
Home
Arsip
Dunia
Gereja
Ministri
Misi
Pendidikan
Budaya
Masyarakat
Hidup
Editorial
Arsip
Mata Kristiani Pos
Suara Bangsa
Customer Service
Info Iklan
Media Kit
Bookmark
Interaktif
Hubungi Kami
Kristiani Pos
Tentang Kami
Syarat dan Kondisi
Administrasi
 
 
Home > Editorial  > Voice of People
 

Pentakosta

Oleh Timur Citra Sari

Monday, May. 16, 2005 Posted: 6:57:26PM PST

Di tengah-tengah keriuhan mahasiswa yang berpindah kelas saat jam pergantian pelajaran, saya mendengar seseorang menyapa dengan suara nyaring, "Selamat siang!" Langkah saya terhenti seketika dan kepala saya pun berputar mencari asal suara.

Seorang mahasiswa berambut cokelat melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat. Oh, ternyata dia. Tentu saja dia bisa menyapa saya dengan "selamat siang" yang fasih, karena pada semester tersebut dia tengah menjalani mata kuliah Praktik Jemaat di First Presbyterian Church of Metuchen, yang melayankan kebaktian berbahasa Indonesia dalam salah satu kebaktiannya.

Dengan senyum lebar saya membalas lambaiannya, lalu bergegas melanjutkan langkah ke kelas tujuan. Sebentar lagi kelas akan segera dimulai.

Menjadi salah satu dari hanya dua orang mahasiswa asal Indonesia di Princeton Theological Seminary pada tahun ajaran itu membuat saya sangat gembira jika "menemukan" seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Ya, sekalipun dia hanya bisa mengatakan "selamat pagi", lalu "selamat siang", kemudian "selamat malam", dan akhirnya "selamat makan".

Hanya dengan mendengar sapaan sederhana yang demikian, Tanah Air yang berjarak ribuan kilometer jauhnya untuk sesaat terasa begitu dekat. Hanya dengan mengetahui ada seseorang di negeri asing ini yang bisa mengatakan satu atau dua patah kata dalam bahasa Indonesia, perasaan sebagai seorang asing di tempat asing untuk sesaat terlupakan.

*

Padahal saya hidup di zaman sekarang, di mana seseorang bisa berada di Jakarta pada pagi hari, lalu di Bangkok pada siang hari, dan di Tokyo pada malam hari. Padahal saya hidup di zaman ini, di mana pergaulan internasional telah membuat dunia seakan tidak lagi tersekat-sekat oleh sekian derajat lintang dan bujur yang biasanya menjadi batas negara yang satu dengan yang lain. Tetapi, toh, tetap saja hati saya tergetar ketika mendengar sebuah sapaan dalam "bahasa ibu" di negeri asing, "Selamat siang!"

Apalagi orang-orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, orang Kreta dan orang Arab ketika mereka mendengar para rasul tidak hanya menyapa mereka dengan sepatah atau dua patah kata, melainkan berbicara, dalam "bahasa kita sendiri" (bdk Kisah Para Rasul 2:8, juga ayat 9-11). Jelas sekali mereka sangat terkejut! Tetapi pada saat yang sama sekaligus juga sangat gembira!

Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Alkitab menjelaskan, "Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya." (ayat 2-4)

*

Peristiwa Pentakosta biasanya kita hubungkan dengan segala sesuatu yang "luar biasa". Baik dalam hal para murid yang pada mulanya biasa-biasa saja, bahkan cenderung penakut dan peragu, tiba-tiba mampu "berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain", atau karena mereka - khususnya Petrus - mendadak berani berkhotbah dengan sedemikian dahsyat (bdk ayat 14-40), atau karena besarnya kelompok jemaat pertama yang terbentuk saat itu (bdk ayat 41), atau juga karena - sekali lagi, khususnya Petrus - dimampukan untuk melakukan "perbuatan ajaib", misalnya menyembuhkan orang lumpuh (bdk Kisah Para Rasul 3:1-10).

Next Page: 1 | 2 |



 
Dari Editorial  
Cabut SKB No.1/1969
Sungguh tak betul, apa yang dikatakan segelintir orang, bahwa gereja tak bersosialisasi dengan masyarakat. Oleh karenanya, adalah wajar bila warga merusak gereja. Andai mengikuti argumen di atas, gereja ...... | more
E-mail
Print-friendly version
Headlines Hari ini
  Friday, Nov. 11 2005 4:07:36PM PST
Tokoh Gereja: Posisi Tawar Umat Kristen Rendah
Kelompok Teroris Diduga Sedang Merancang Teror Malam Natal
Gereja Se-Indonesia Bahas Penutupan Tempat Ibadah
Pdt Damanik Minta Inggris Tekan RI
TPKB Minta SKB Serta Revisinya Dicabut [Photo]
Terpopuler
Terjadinya Penganiayaan Anak Kecil di Gereja Pondok Daud Dibantah
Sidney Mohede:Belajar dari Billy Graham
Penembokan Sekolah Sang Timur
Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang