Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5 : 37).
Search
Arsip Berita
Web
 
Advanced Search
Enhanced by
Home
Arsip
Dunia
Gereja
Ministri
Misi
Pendidikan
Budaya
Masyarakat
Hidup
Editorial
Arsip
Mata Kristiani Pos
Suara Bangsa
Customer Service
Info Iklan
Media Kit
Bookmark
Interaktif
Hubungi Kami
Kristiani Pos
Tentang Kami
Syarat dan Kondisi
Administrasi
 
 
Home > Editorial  > Eyes of christianpost
 

Intropeksi Diri Atas Musibah di Aceh

Monday, Jan. 10, 2005 Posted: 4:09:06PM PST

Bencana tsunami terbesar sepanjang sejarah yang terjadi di Aceh dan Sumut pada 26 Desember 2004 , sehari setelah hari raya Natal mengundang simpati dan empati mendalam dari seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat kecil tak berdosa ikut menjadi korban keganasan alam.

Manusia mulai menyalahkan Tuhan, mengapa Dia melakukan semuanya ini? Apa artinya? Mengapa Tuhan begitu kejam?

Pertanyaan-pertanyaan kecil ini pasti terbesit di hati setiap orang yang melihat kabar yang mengiris hati seperti yang terjadi di Aceh.

Jika direnungkan, peristiwa bencana ini mengandung makna yang sangat dalam bagi setiap manusia sebagai makhluk ciptaanNya bahwa betapa besarnya kekuatan Tuhan terhadap alam. Sementara manusia sangat rapuh sehingga tak kuasa berhadapan dengan alam. Segala kepintaran manusia dalam hal teknologi, yang dapat membuat alat untuk mendeteksi gempa seakan tidak ada gunanya. Manusia tidak dapat meramalkan kapan akan terjadi bencana, kecuali hanya Tuhan yang tahu.

Bencana luar biasa ini seharusnya bisa memberi pelajaran berharga kepada kita semua, terutama Indonesia. Selama ini masyarakat Indonesia sudah terlalu sombong dan angkuh. Kejahatan dimana-mana, bahkan agamapun dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan.

Maka, ketika gempa bumi dahsyat yang disertai air bah memorakporandakan sebagian negeri kita yang indah ini, manusia tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa menyerahkan semua ini kepada Tuhan.

Dari bencana ini, Tuhan ingin memperingatkan kita agar tidak saling tuduh-menuduh mengkaitkan musibah ini dengan kesalahan seseorang. Kita semua di hadapan Tuhan adalah makhluk berdosa. Marilah kita segera bertobat dan berbagi penderitaan bersama dengan para korban tanpa memandang suatu agama tertentu.




Yunita Lee

 
Dari Editorial  
Cabut SKB No.1/1969
Sungguh tak betul, apa yang dikatakan segelintir orang, bahwa gereja tak bersosialisasi dengan masyarakat. Oleh karenanya, adalah wajar bila warga merusak gereja. Andai mengikuti argumen di atas, gereja ...... | more
E-mail
Print-friendly version
Headlines Hari ini
  Friday, Nov. 11 2005 4:07:36PM PST
Tokoh Gereja: Posisi Tawar Umat Kristen Rendah
Kelompok Teroris Diduga Sedang Merancang Teror Malam Natal
Gereja Se-Indonesia Bahas Penutupan Tempat Ibadah
Pdt Damanik Minta Inggris Tekan RI
TPKB Minta SKB Serta Revisinya Dicabut [Photo]
Terpopuler
Terjadinya Penganiayaan Anak Kecil di Gereja Pondok Daud Dibantah
Sidney Mohede:Belajar dari Billy Graham
Penembokan Sekolah Sang Timur
Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang