Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak (Mat 5 : 37).
Search
Arsip Berita
Web
 
Advanced Search
Enhanced by
Home
Arsip
Dunia
Gereja
Ministri
Misi
Pendidikan
Budaya
Masyarakat
Hidup
Editorial
Arsip
Mata Kristiani Pos
Suara Bangsa
Customer Service
Info Iklan
Media Kit
Bookmark
Interaktif
Hubungi Kami
Kristiani Pos
Tentang Kami
Syarat dan Kondisi
Administrasi
 
 
Home > Editorial  > Voice of People
 

Natal Mengukir Harapan Baru

Oleh: Weinata Sairin

Monday, Dec. 27, 2004 Posted: 12:41:05PM PST


Tatkala Natal kudus menjamah-buana

kidung sukacita membahana

menguak sejarah, menjanjikan harapan baru

Kristus Yesus, yang lahir di kekinian sejarah adalah

Allah yang melawat dan membebaskan manusia

dari masa lampau yang sia-sia, dari dosa keterpecahan

perseteruan, kedengkian, penindasan, keserakahan

muliakan nama-Nya


Dialah Juruselamat manusia

kedatangan-Nya membangun kembali

persekutuan yang kukuh, kerendahan hati

hidup yang saling mengampuni

cinta sejati, persaudaraan yang tulus murni.


tatkala Natal syahdu hadir di tengah-tengah sejarah

sebagai bangsa, kita akan terus mewujudkan tekad membara

melanjutkan pembangunan bermakna

demi hari depan ceria rakyat tercinta

Kristus yang lahir di hari Natal

adalah sumber motivasi

bagi pekerjaan akbar bangsa

membangun rumah besar Indonesia dengan fondamen Pancasila


Hari raya keagamaan memiliki makna yang amat dalam bagi spiritualitas manusia. Lepas dari kualitas keberagamaan yang dimiliki seseorang, penampilan seseorang pada hari-hari raya keagamaan memanifestasikan secara amat jelas tingkat spiritualitas seseorang.

Dalam konteks kekristenan, perayaan Natal merupakan hari raya yang amat populer dibanding dengan hari raya gerejawi lainnya. Hari raya Paskah, Pentakosta, Kenaikan Yesus Kristus masih belum sebanding tingkat kesemarakannya dibandingkan dengan perayaan Natal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Natal bahkan tidak lagi menjadi perayaan yang eksklusif kristiani, tetapi telah berubah menjadi sebuah hari raya keagamaan yang inklusif, yang dirayakan oleh masyarakat luas. Masyarakat majemuk Indonesia dari berbagai latar belakang agama tidak lagi mengalami kecanggungan untuk mengucapkan ¡®Selamat Natal¡¯ kepada umat kristiani, dalam berbagai bentuk. Kata kunci yang amat penting dalam peristiwa Natal adalah perdamaian dan pengharapan.

Yesus berfirman: ¡±Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah ¡± (Matius 5:9a). Yesus menyebut berbahagia orang yang membawa damai; orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Allah.


Orang yang membawa damai adalah orang yang tak kenal lelah dalam mengupayakan agar perdamaian terwujud. Di tengah suasana permusuhan, pertentangan, dan kekerasan, peran orang yang membawa damai menjadi amat signifikan dan merupakan sebuah keharusan.

Dalam perspektif Kristen, kata damai mengacu pada istilah syalom, salam, yang maknanya lebih luas dari perdamaian, juga mencakup kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, kebahagiaan, kasih, kesetiaan, keadilan, kebaikan. Alkitab menghubungkan syalom dengan ¡±Raja Syalom¡± yang akan datang, yang pemerintahannya didasarkan pada keadilan dan kebenaran dan mencakup berbagai bangsa di dunia. Syalom yang disebut dalam Alkitab telah digenapi dalamYesus Kristus.

Natal harus mendorong umat Kristen untuk makin mempertajam penglihatan, sehingga mampu menangkap dengan tepat potret kekinian dunia. Pengangguran, kriminalitas, kekurangan gizi, anak-anak putus sekolah, ketidakadilan, kelaparan, pelanggaran HAM, dan berbagai permasalahan lainnya telah menjadi bagian akrab dari keseharian kita. Natal yang membawa syalom melalui kelahiran Yesus Kristus harus memberi inspirasi dan motivasi bagi gereja dan umat Kristen untuk memainkan peran signifikan di tengah-tengah perubahan yang sedang terjadi, di tengah-tengah berbagai persoalan yang mendera kehidupan bangsa. Gereja dan umat Kristen dalam konteks perdamaian yang didatangkan oleh Yesus Kristus harus mampu berperan sebagai mediator, rekonsiliator, duta dan juru damai di tengah-tengah dunia yang dilanda konflik dan kebinasaan. Mereka harus mampu menjadi solusi bagi konflik, bukan sebaliknya menjadi faktor penyulut konflik.

Next Page: 1 | 2 |



 
Dari Editorial  
Cabut SKB No.1/1969
Sungguh tak betul, apa yang dikatakan segelintir orang, bahwa gereja tak bersosialisasi dengan masyarakat. Oleh karenanya, adalah wajar bila warga merusak gereja. Andai mengikuti argumen di atas, gereja ...... | more
E-mail
Print-friendly version
Headlines Hari ini
  Friday, Nov. 11 2005 4:07:36PM PST
Tokoh Gereja: Posisi Tawar Umat Kristen Rendah
Kelompok Teroris Diduga Sedang Merancang Teror Malam Natal
Gereja Se-Indonesia Bahas Penutupan Tempat Ibadah
Pdt Damanik Minta Inggris Tekan RI
TPKB Minta SKB Serta Revisinya Dicabut [Photo]
Terpopuler
Terjadinya Penganiayaan Anak Kecil di Gereja Pondok Daud Dibantah
Sidney Mohede:Belajar dari Billy Graham
Penembokan Sekolah Sang Timur
Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang