Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Interaktif

Pendeta Harus Belajar Mendengar, kata Pakar Konseling Kristen Indonesia

Rosa H.
Reporter Kristiani Pos

Posted: Dec. 02, 2007 05:34:45 WIB

Mendengar adalah suatu kata yang mudah untuk dikatakan tetapi kenyataannya susah untuk dilakukan. Mendengar adalah sebuah keahlian, oleh karena itu perlu untuk dipelajari.

Menurut pakar konseling Kristen pendiri Lembaga Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Julianto Simanjuntak, lambatnya seseorang untuk mendengar dan lebih cepat untuk berbicara tidak hanya dialami masyarakat awam tetapi juga merambah kepada pemimpin-pemimpin jemaat.

Hal itu diungkapkan Julianto beberapa waktu lalu di acara Christian Mens Network (CMN), di Jakarta, Suara Pembaruan memberitakan.

Menurutnya, banyak pendeta saat ini ketika jemaat datang untuk mencurahkan isi hatinya, yang diperoleh justru adalah nasihat-nasihat bahkan penghakiman terhadap jemaat bahwa yang bersangkutan sudah melakukan dosa sehingga tertimpa masalah itu dan disuruh memohon ampun. "Bahkan biasanya kalau pemimpin jemaat malas untuk mendengarkan keluh-kesah beban hidupnya maka si pemimpin langsung mengambil langkah menolak secara halus dengan mengatakan 'mari kita berdoa'," katanya.

Sikap itu harus diubah karena yang dibutuhkan jemaat pada saat itu bukanlah untuk mendengarkan doa pemimpin jemaat melainkan bagaimana persoalan si jemaat bisa didengarkan oleh orang lain, katanya.

Melihat kenyataan itu, Julianto menganalisa bahwa setiap orang di dunia ini membutuhkan konseling untuk membagi beban hidupnya. Dari sisi itu pula ia menjajaki konseling. "Bisnis konseling masih terhampar luas. Kalau di Alkitab dikatakan kita harus mencari jiwa, dengan konseling justru sebaliknya jiwa yang mencari kita," katanya.

Julianto mengatakan, banyak anggota konseling yang sudah disembuhkan dari penyakit yang dialaminya. Karena selain melakukan konseling secara rohani, LK3 juga melakukan kajian-kajian ilmiah dengan melibatkan para ahli seperti psikolog atau psikiater.

Pelayanan LK3 antara lain meliputi Life-Discovery yakni terapi kelompok senasib yang bertujuan menemukan makna hidup lewat penderitaan dan masalah hidup. Setiap kelompok beranggotakan orang-orang dengan masalah yang sama. "Kami menyebutnya kelompok senasib," ujar Julianto. Setiap kelompok dipimpin oleh mereka yang pernah melewati masalah yang sedang dipimpin.

Sejak tahun 2003 LK3 telah menerima 1000 lebih kasus, dan sebagian dari mereka pernah mengikuti konseling pribadi, terapi kelompok dan seminar LK3.

Selain Life-Discovery, terdapat Sharing Interaktif Radio dan TV Kabel. Pada bagian ini bertujuan membagikan pengalaman pemulihan hidup klien kepada banyak orang dan mendorong orang untuk terbuka dengan masalah mereka lewat media misalnya melalui Radio Pelita Kasih setiap Sabtu malam pukul 21.00 - 22.00. Programnya adalah Seni Merayakan Hidup Yang Sulit. Julianto juga membantu "komunitas curhat" atau komunitas untuk mencurahkan isi hati lewat SMS TV & Infotainment Channel, Kabel Vision setiap Kamis.

Next Story : Benyamin F. Intan: Umat Kristen Harus Paham Politik, Moral dan Kepemimpinan Nasional Berdasarkan Alkitab

Terpopuler

Headlines Hari ini