Berdoa Dalam Pelukan Belas Kasih Allah
Saturday, Mar. 5, 2005 Posted: 6:03:30PM PST
Yesus mengisahkan adanya dua orang yang sama-sama pergi ke bait Allah untuk berdoa. Satunya adalah orang Farisi (dan karena itu ia orang baik) dan yang lainnya adalah pemungut cukai (dan karena itu ia orang jahat). Keduanya sama-sama pergi berdoa dengan isi yang berbeda. Orang Farisi itu memuji dirinya sebagai orang baik yang tidak sama dengan orang lain karena ia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan lebih lagi bukan juga seperti pemungut cukai yang juga ada dalam bait Allah. Sebaliknya pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, memukul dirinya dan mengaku dalam doanya, "Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini."
Mengapa doa pemungut cukai itu dibenarkan sedangkan orang Farisi tidak? Orang Farisi itu mengalamatkan doanya pada dirinya sendiri. Doanya adalah sebuah laporan tentang hal-hal baik yang dilakukannya. Ia tidak dibenarkan bukan karena hal-hal baik yang dilakukannya tetapi karena ia tidak memberikan tempat bagi Allah dan belaskasihanNya. Sebaliknya pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh. Kepada Allah ia menceritakan secara sangat singkat tetapi jelas kebenaran tentang dirinya. "Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini." Pemungut cukai ini tahu siapa sesungguhnya dirinya, ia mengakui dan memberikan dirinya kepada Allah dan selebihnya ia tergantung pada belas kasih Allah.
Orang Farisi itu tidak dibenarkan karena ia berdoa demi kemuliaan namanya, dalam cara yang membelakangi Allah dan dengan niat merendahkan orang lain. Sebaliknya pemungut cukai itu dibenarkan karena ia berdoa demi belas kasih Allah, dalam kerendahan hati dan dengan niat mendapatkan belas kasih di hadapan Allah. Allah kita adalah Allah yang menyukai kasih setia dan pengenalan akan Allah (Hosea 6:6). Belajar dari pemungut cukai ini kita ingin memberi diri kepada Allah, menceritakan kepadaNya kehinaan diri kita, dan percaya akan kasih setiaNya, kita berharap hidup dalam belas kasih Allah. "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa", kiranya menjadi doa kita dan sisanya kita tumpukan pada belas kasih Allah yang tanpa batas dan akhir.
Dikutip dari Pondok Renungan
Shinta Marthawati
|