Hot Topics » Hot Topics Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Interaktif

Sutradara Kristiani Buat Film Raup $31M


Reporter Kristiani Pos

Posted: Dec. 17, 2008 16:49:04 WIB

Sutradara Scott Derrickson (kanan) mengarahkan aktor Keanu Reeves di pembuatan film "The Day the Earth Stood Still." (AP)

Saat ini jika kita perhatikan semakin banyak film Kristiani yang diproduksi di Hollywood. Umat Kristiani juga semakin sadar akan dampak yang dihasilkan film-film semacam itu ditengah-tengah budaya masyarakat.

Diantara yang paling banyak dibicarakan salah satunya adalah "Fireproof," sebuah film independen yang diproduksi para pendeta di sebuah gereja Baptis di Georgia, Amerika Serikat dengan biaya $500 ribu. Namun sejak peluncurannya 26 September lalu, film itu telah menghasilkan $32 juta.

Namun yang tidak begitu disadari adalah film-film yang tidak "dilabeli" Kristiani, namun masih memiliki cara pandang Kristiani. Film terbaru dalam kategori ini adalah "The Day the Earth Stood Still," yang dibintangi bintang film ternama Keanu Reeves dan Jennifer Connelly.

Meskipun film Hollywood dan "remake" film klasik tahun 1951, "The Day the Earth Stood Still" yang disutradarai Scott Derrickson masih bernafaskan tema-tema biblikal, termasuk referensinya pada kisah Nuh, seorang anak yang bersimpuh di depan salib, dan adanya figur Kristus, yang digambarkan sebagai alien bernama Klaatu.

"Bagi saya, Klaatu menggambarkan kisah Kristus dan sangat terlihat secara naratif, dan itu tidak bisa dipungkiri," kata Derrickson kepada pers Kristiani awal bulan ini. "Dan saya mencoba menaruh hal-hal yang saya rasa cukup elegan dinikmati dan dihargai oleh audiens modern."

"Saya rasa analogi Kristus cukup kuat (dalam film itu)," tambahnya.

Meskipun terkandung makna Kristiani (atau memang karena bermakna Kristiani), film itu mendulang sukses besar dan menjadi film teratas pada minggu ini dengan penjualan sekitar $31 juta. Film terakhir Derrickson "The Exorcism of Emily Rose," juga meraup kesuksesan yang hampir sama, menghasilkan $30 juta pada minggu pembukaan tiga tahun lalu dan pada akhirnya menghasilkan $144 juta di seluruh dunia.

Meskipun anggaran untuk kedua film itu sangat jauh dibandingkan "Fireproof," sukses Derrickson diakui tokoh perfilman Kristiani. Tahun lalu, Derrickson dianggap sebagai salah satu umat Kristiani paling berpengaruh di Hollywood (No. 12) oleh situs Beliefnet.com.

Sutradara Kristen itu juga membuat dampak langsung di industri film Kristiani, dengan mengajar calon pembuat film Kristiani di almamaternya Biola University, dan Azusa Pacific University.

"Saya mengajar … karena saya ingin memfasilitasi hasrat (untuk film), dan memupuknya," kata Derrickson, yang memiliki gelar dari bidang humanitas, komunikasi dan teologi dari Biola dan meraih master untuk produksi film dari USC School of Cinematic Arts.

Meskipun film-filmnya tidak berlabelkan Kristiani, namun tidak jarang mengandung elemen-elemen Kristiani yang bisa dipetik umat percaya dan mungkin tidak disadari orang lain saat menonton begitu saja. Dan inilah yang diinginkan Derrickson karena dia tidak suka kecenderungan "film-film berpesan."

"Saya tidak suka film berpesan," katanya. "Saya tidak suka film yang memberitahu saya bagaimana harus berpikir, bagaimana harus memilih. Meskipun saya setuju dengan apa yang disampaikan, namun saya tidak suka itu."

Banyak ahli perfilman Kristiani cenderung setuju dengan Derrickson mengenai film-film "berkotbah", termasuk Dr. Phil Cooke, yang mendirikan Cooke Pictures, konsultan media berbasis iman.

"Dari perspektif saya, banyak umat Kristen terikat harus eksplisit di film-film mereka," kata Cooke, seorang produser dan ahili strategi media dengan Ph.D. di Teologi. "Kita berpikir kalau tidak ada Kristus, maka itu bukan film Kristen. Jadi kita terlalu keras mendorong injil ke dalam cerita, dan lupa kalau orang menonton karena ingin dihibur."

Namun Cooke berkata umat Kristiani harus lebih halus dalam penceritaan mereka.

"Apalagi Yesus tidak berbicara tentang kisah-kisah 'Kristen', ia berbicara tentang kehidupan orang, dan kisah-kisah itu hebat dan mendorong," kata Cooke.

Lebih jauh lagi, menurut penulis Kristiani, sutradara dan produser Dan Merchant, pesan-pesan eksplisit dapat mengacaukan sebuah film.

"Sebuah cerita haruslah jujur dan film harus dihargai karena film itu sendiri," kata pemenang penghargaan Emmy itu. "Jika cerita kehilangan audiensnya, film kehilangan pesannya."

Sejauh ini, sutradara Derrickson sudah cukup sukses menarik audiens, meski banyak yang melihat film terbarunya ini sebagai film "hijau" karena mengemukakan konsekuensi dari kehancuran umat manusia di bumi.

Bagi mereka yang menganggap seperti itu, Derrickson dengan cepat menanggapi kalau film itu lebih dalam dan tidak lebih "hijau" dari film aslinya yang dibuat saat Perang Dingin.

"Saya rasa baik film asli dan film ini tetap menekankan tentang sifat manusia daripada isu-isu sosial," katanya. "Film ini adalah bagaimana sifat manusia kita memiliki kecenderungan ke kehancuran diri sendiri, apakah kita punya atau tidak kapasitas untuk menghindarinya."

Bukan berarti ia menganggap bumi itu sendiri tidak penting. Sutradara itu mengatakan ia percaya bahwa manusia adalah penjaga ciptaan Tuhan.

"Saya percaya Tuhan menciptakan dunia dan membuatnya baik dan memberikan tanggung-jawab bagi kita untuk merawat dengan baik," katanya mengenai topik sensitif ini.

"Apapun posisi yang anda ambil mengenai eskatologi dan kemana peradaban akan pergi, saya rasa anda tetap harus memperlakukan lingkungan dengan rasa hormat yang sama seperti anda merawat tubuh sendiri," tambahnya.

Meskipun seperti itu, Derrickson berkata saat dia membuat film itu, dia tidak berusaha menyuntikkan pesan lingkungan.

"Saat saya membuat film ini, pada dasarnya saya tidak mau memikirkan tentang politik tertentu - terutama politik lingkungan," kata sutradara itu.

Apa yang ia ingin buat melalui film itu menurutnya agar kita dapat menangkap momen ini dalam sejarah - jaman dimana orang "mengakui kalau kadang kita terikat masalah dulu baru kita dapat menemukan kekuatan untuk bangkit dan berubah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya."

"Kemalangan ada tujuannya," kata Derrickson sebelum mengatakan tentang afirmasi Alkitab mengenai pernyataan tersebut.

"Kadang kita berbuat kesalahan. Kadang kesalahan itu digunakan sebagai motivator dan menjadi pemicu utama pertumbuhan. Dan saya rasa disinilah dunia berada saat ini," katanya.

"Dan saya rasa, sebagai seorang Kristen, itulah bagaimana Tuhan bekerja di dunia. Dan itulah cara Dia melakukannya."

Dengan pikiran ini, Derrickson berpendapat bahwa cara untuk keluar dari situasi-situasi sulit itu adalah membuat pengorbanan - dengan "melakukan apa yang sulit."

"Bagi saya, jika saya dapat memberikan substansi semacam itu di sebuah film populer yang dapat dinikmati keluarga dengan popcorn, itulah cita-cita saya," katanya.

Derrickson saat ini sudah terikat menyutradarai adaptasi film buku "Paradise Lost" karangan John Milton untuk Legendary Pictures dan juga terikat menyutradari adaptasi buku "Devil's Knot" karangan Mara Leveritt untuk Dimension Films. "Paradise Lost," yang rencananya dirilis tahun depan, saat ini sedang diproduksi sedangkan "Devil’s Knot" baru-baru ini diumumkan.

Film-film Derrickson yang lain antara lain "Hellraiser: Inferno" (2000) dan "Love in the Ruins" (1995).

Next Story : Jesus Film Targetkan Jangkau Lebih Banyak Lagi Negara Maju

Terpopuler

Headlines Hari ini