Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

World Peace - Apa Solusi Masalah Global?

Maria F.
Reporter Kristiani Pos

Posted: Jul. 01, 2008 15:45:40 WIB
World-Peace-Apa-Solusi-Masalah-Global

Salah satu sesi diskusi dalam 2nd World Peace Forum di Golden Ballroom, Hotel Sultan Jakarta (24/6-26/6). (Foto: Kristiani Pos)

World-Peace-Apa-Solusi-Masalah-Global

Hatta Radjasa, Menteri Sekretaris Negara RI menjamu para peserta 2nd World Peace Forum. (Foto: Kristiani pos)

World-Peace-Apa-Solusi-Masalah-Global

Prof. Dr. M. Din Syamsuddin selaku ketua umum Muhammadiyah menyampaikan kesimpulan terakhir The 2nd World Peace Forum. (Foto: Kristiani Pos)

Pertemuan World Peace Forum (WPF) pada 24-26 Juni 2008 dengan slogan One Humanity, One Destiny, and One Responsibility dan mengangkat tema: "Addressing Facets of Violence: What can be Done?"

Menteri Luar Negeri RI Dr. N. Hassan Wirajuda selaku pembicara kunci menjabarkan beberapa alasan yang memicu timbulnya kekacauan antara lain adanya konflik sektarian dan terorisme sebagai sumber lain dari kekacauan. "Tidak adanya penghargaan terhadap nilai dari kehidupan manusia menimbulkan kekacauan budaya yang merupakan mindset dari terorisme itu sendiri," jelasnya. Bahwa kekacauan akan melahirkan kekacauan, dan apa yang dapat kita lakukan? tanyanya. Hassan mengatakan bahwa ada tiga konsep yang dibahas dalam forum itu. Pertama adalah tentang demokrasi.

Politik dan ketidakadilan ekonomi merupakan sumber dari konflik. Bahwa tantangan yang dihadapi adalah untuk memastikan bahwa demokrasi itu berjalan dengan baik untuk mengangkat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Konsep kedua adalah dialog, bahwa penting adanya dialog guna menyelesaikan konflik yang terjadi, dimana dalam penyelesaiannya dibutuhkan proses pembelajaran yang membutuhkan dialog. Dalam kaitannya dengan dialog, menurut Hassan peran media massa tidak dapat diabaikan dimana media mengambil peranan sebagai jembatan untuk terciptanya saling pengertian dan penghargaan diantara keyakinan dan budaya yang berbeda. Konsep yang ketiga mengatakan tentang tantangan terhadap identitas/peran ganda yang dimiliki setiap orang. "Untuk itu penting bagi kita untuk pertama kali menerima, menghargai perbedaan satu dengan yang lain," tegasnya.

Menurut Muhammadiyah sebagai penyelenggara, WPF bertujuan menjadi wadah bagi warga dunia yang peduli untuk berbagi pemikiran dan kebijksanaan, mendiskusikan cara-cara praktis untuk meningkatkan kerjasama dan mengurangi prasangka serta membangun kesepahaman di berbagai peradaban.

Forum ini bertujuan untuk mengintensifkan dialog diantara peradaban. Dimana setiap warga dunia disatukan oleh cita-cita One Humanity, One Destiny, and One Responsibility (satu kemanusiaan, satu harapan, dan satu tanggungjawab) untuk menciptakan perdamaian.

Acara tersebut dihadiri oleh 230 peserta dari berbagai kalangan seperti agamawan, politik, pebisnis, duta besar, cendikiawan, aktivis LSM dan jurnalis dari 36 negara.

Forum tersebut dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bertempat di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jakarta. Dalam kesempatan pembukaan forum tersebut diawali dengan pidato sambutan oleh Prof. Dr. M. Din Syamsuddin selaku ketua umum Muhammadiyah dan Tan Sri Lee Kim Yew, pendiri Cheng Ho Multi Culture Trust. Hadir juga tokoh Ven. Master Chin Kung, pendiri Masyarakat Budhis Amithaba, yang bermarkas di Toowomba, Australia.

Dalam agenda hari pertama forum juga meliputi penyampaian pesan dari para tokoh dunia melalui video antara lain Rt. Hon. Helen Clark, Perdana Menteri Selandia Baru; Jan Peter Balkenede, Perdana Menteri Kerajaan Belanda; Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia; Rt. Hon. Gordon Brown MP, Perdana Menteri Inggris, yang mana masing-masing menyampaikan pesan perdamaian mereka.

Agenda sesi pertama, membahas Faset-faset Kekerasan: Masalah dan Tantangan yang dipandu Dr. Dewi Fortuna Anwar, dengan para panelis Dr. Amien Rais, Dato Anwar Ibrahim, Dr. Emmanuel Kattan, Penasehat senior Sekretariat Aliansi Peradaban, New York (AS) dan Mr. Nagashima Akihisa salah seorang anggota parlemen Jepang serta Dr. Ali Alatas, penasehat khusus Presiden RI.

Pada sesi kedua dibahas mengenai masalah Kekerasan Politik dan Agama: Mencari Akar Masalah yang dipandu oleh Meidyatama Suryodiningrat, redaktur pelaksan The Jakarta Post dan sebagai panelis Ayatollah Mohammad Ali Taskhiri, Sekjen Majelis Global Pemikiran Islam, Teherean, Iran serta Mark Juergensmeyer, Direktur Pusat Studi Internasional dan Global, University of California, Santa Barbara.

"Apakah agama menjadi sebab timbulnya terorisme ataukah agama merupakan sebab terjadinya masalah ataukah agama berada pada posisi korban? Jawaban saya adalah bahwa agama bukanlah sebab dari semua masalah tetapi agama sangat problematik. Meskipun agama bukanlah penyebab dari kekacauan, tetapi agama memiliki tanggungjawab untuk setiap aksi kekacauan yang dilakukan secara intens maupun ekstrim," demikian pernyataan Mark Juergensmeyer dari University of California, Santa Barbara dalam mencari jawab sumber dari semua masalah yang terjadi.

Beberapa peserta yang hadir dalam pertemuan juga memberikan definisi mengenai apa itu kekacauan antara lain seperti yang dikatakan Father Chris Riley, pendiri Youth of Streets, Alexandria, Australia yang mengatakan bahwa kekacauan merupakan hasil dari ketiadaan komunikasi yang didasarkan pada kasih. "Kekacauan disebabkan karena adanya ketidakadilan," menurut Valeria Martano, dari Comunita di Saint'Egidio, Italia.

Kesimpulan akhir yang diperoleh dalam penyelenggaraan 2nd World Peace Forum yang disampaikan oleh Prof. Dr. M. Din Syamsuddin selaku ketua umum Muhammadiyah sekaligus presiden Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) disimpulkan bahwa agama bukanlah penyebab utama timbulnya kekacauan dan juga menyerukan kepada pemerintah untuk lebih menanamkan kedamaian daripada menanamkan benih kekacauan. Dalam kesimpulan akhir tersebut juga dikatakan bahwa kebebasan pers sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih terbuka dan toleran yang menghargai martabat manusia.

Tidak dapat disangkal bahwa media memainkan peran penting dalam penyampaian pesan perdamaian kepada semua orang. Untuk itu para jurnalis perlu untuk lebih meningkatkan kemampuan dan sensitifitas dalam pelaporan mengenai masalah-masalah yang dapat memicu provokator dan ketidakstabilan politik. Terakhir diserukan kepada para pemimpin agama berperan aktif dalam menciptakan dialog antar agama dan dialog antar budaya yang dapat memungkinkan para pemimpin agama untuk dapat memahami perbedaan kepercayaan satu dengan lainnya dan bertanggungjawab untuk membagikan harapan untuk tercapainya perdamaian.

Acara penutupan 2nd World Peace Forum oleh wakil presiden RI Jusuf Kalla bertempat di kantor Wakil Presiden sekaligus mengadakan jamuan makan malam perpisahan dengan para peserta The 2nd World Peace Forum.

Next Story : Perempuan Iran yang Pindah Agama Didakwa Murtad, Menyebarkan Ke-Kristenan

Terpopuler

Headlines Hari ini