Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Mencari Titik Temu Antara Kepercayaan Dan Film


Posted: Oct. 11, 2008 20:30:58 WIB

Pada dekade yang lalu nampak jelas suatu tanda adanya pertumbuhan dalam kesusastraan yang terkait dengan perfilman dan kepercayaan khususnya mengenai pertanyaan seputar teologi dan film. Dari awal permulaan munculnya sinema hingga saat ini telah ada sebuah pemikiran yang berfokus pada pemikiran tentang pengaruh moral dan spiritual terhadap para penontonnya. Hal tersebut pada saat ini menurun suaranya sebagaimana kita temukan penulisan informasi mengenai teologi juga diikutsertakan dalam kritik film.

Bukti yang menyatakan adanya suatu perubahan terlihat dari jumlah buku-buku dan artikel-artikel yang ada saat ini yang menggali hubungan antara film dan iman. Teolog Cambridge David Ford telah melakukan pengeditan besar sebanyak 800 halaman dalam sebuah buku berjudul The Modern Theologians (Blackwell 2005 edisi ketiga) yang mana di dalamnya dia memasukkan secara spesifik tentang teologi dan seni, seni visual, film dan musik.

Artikel Jolyon Mitchell dalam sebuah film memiliki suatu ruang bagi nilai untuk mulai suatu pencarian dimanakah sesuatu hal itu seharusnya berada dan dimanakah suatu hal itu berada sekarang dalam hubungan teologi dan film. Mitchell mengamati bahwa sementara “beberapa kritik telah mengelak bahwa sinema sebagai suatu media yang dapat merusak moral, sosial dan doktrin,…sedangkan yang lainnya menganggapnya sebagai suatu katalis untuk pengggalian teologi atau bahkan dianggap sebagai suatu seni yang amat potensial” (The Modern Theologians, p. 739).

Ada berbagai macam tulisan dalam teologi dan film saat ini, dan agenda-agenda yang berbeda. Robert Johnston dalam bukunya Reel Spirituality: Theology and Film dalam suatu dialog mengatakan tentang bagaimana beberapa kritik dimulai dengan suatu perkiraan mengenai sebuah nilai moral dalam isinya. Yang lainnya menganggap kekuatan pembangkit dalam film memberikan bagi mereka sendiri kualitas nilai artistik dan estetika film tersebut sebelum dikaitkan dengan kritik teologi (hal. 739).

Serangan mendadak dalam ruang lingkup film dan kepercayaan seringkali terbatas pada produksi membuat Hollywood kurang memperhatikan tentang yang dalam Akademi disebut film asing-seperti film-film Asia, India atau Eropa yang sering lebih lihai mengajukan pertanyaan terhadap keadaan manusia dibandingkan dengan apa yang ditemukan di Hollywood. Tanda-tanda ini yang menggerakkan penggalian teologi dalam film agar memberikan perhatian pada produksi lebih baik jauh dibandingkan dengan gaya dan latarbelakang film Hollywood itu sendiri yang secara eksplisit bertema agama. Jika film merupakan suatu bentuk pendek dari seni ikut terlibat dalam mengoreksi pertanyaan mendalam tentang apa makna pentingnya bagi manusia maka pastinya itu merupakan suatu wadah untuk merefleksikan adanya kaitan dengan kepercayaan. Hal tersebut perlu menjadi perhatian yang mana seringkali umumnya bagi teologi dianggap menarik tetapi tidak terlalu penting bagi film jika isinya terlalu berbau agama.

Pada 2005 pelanggan di AS mengeluarkan $45 milyar untuk membiayai pembuatan film. Secara jelas hal tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita tentang film-film tersebut. Apa pun bisa saja dapat dijawab dengan berbagai cara. Seperti misalnya tentang adanya kemungkinan bagi orang di Amerika Utara yang berusaha untuk lari dari tuntutan pekerjaan, tekanan dalam kehidupan sosial atau dari kebosanan. Mungkin narasi dalam film tersebut dapat membawa kita masuk dalam ceritanya-dapat memberikan suatu perspektif dalam kehidupan kita. Atau juga dapat menjadi suatu saat kebersamaan kita dalam suatu ruang bioskop dan dalam ruang lingkup negara yang juga dapat memberikan pertolongan melalui nilai dalam kehidupan kita untuk dapat menemukan tentang apa yang harus kita percayai dan setidaknya tentang siapa diri kita sesungguhnya. Jika film itu baik maka dapat memiliki kekuatan cerita dalam menggambarkan sebuah perumpamaan agama-memberikan wawasan dan arah bagi kehidupan penontonnya.

Dialog antara teologi dan film tersebut dirasa masih sangat dini dan kita sebaiknya jangan berharap terlalu banyak akan hal itu untuk saat ini. Ada tanda-tanda yang kuat yang menunjukkan bahwa tingkat diskusi makin mendalam seiring waktu dan banyak hasil pekerjaan baru yang diterbitkan sangat menjanjikan di masa depan. Mitchell menutup artikelnya dengan sejumlah pertanyaan terhadap industri film, berikut tiga pertanyaan tersebut: “Sejauh mana industri film menjadi suatu alternatif yang baik bagi gereja, dengan waktu dan tempat kudusnya sendiri, apakah ini dipandang sebagai suatu ritual dan perayaan kanonisasinya? Sejauh mana hal tersebut dapat mengembangkan peningkatan kesejahteraan dan popularitas seseorang lebih dari pembentukan watak dan kepedulian komunitas? Sejauh mana industri tersebut mampu menciptakan suatu sinematik selingan dari suatu kekerasan nyata dan bersifat endemis di dunia?”

Percakapan seperti inilah yang disukai untuk pembinaan dalam suatu jaringan imago.

John Franklin adalah Direktur Eksekutif Imago. Berpusat di Toronto, Kanada, Imago mengembangkan pembangunan Kristiani melalui seni.

Next Story : Arkeolog Temukan Model Rumah Yesus di Masa Kecil

Terpopuler

Headlines Hari ini