Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Hukuman Rotan untuk Perempuan Malaysia yang Minum Bir Ditunda

Ariza Samuel
Reporter Kristiani Pos

Posted: Aug. 26, 2009 09:12:09 WIB

Model Malaysia Kartika Sari Dewi Shukarno, 32, yang akan dipukul rotan karena telah minum bir, disambut ayahnya di Karai, sebelah utara Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat, 21 Agustus 2009. Kartika akan menjadi wanita pertama yang dijatuhi hukuman rotan dibawah aturan Islam karena minum alkohol di sebuah hotel tahun lalu. (AP)

Wanita pertama di Malaysia yang menghadapi pukulan rotan akibat minum bir ditangguhkan hukumannya Senin lalu dengan alasan bulan suci Ramadan. Namun Keluarganya mengatakan ia lebih suka mendapatkan hukuman rotan sekarang dan menyelesaikan perkara tersebut.

Pejabat Islam mengeluarkan Kartika Sari Dewi Shukarno , 32 tahun, ibu dua anak, dari tahanan dan sedang dalam perjalanan ke sebuah penjara wanita untuk melangsungkan hukuman namun mereka tiba-tiba kembali dan mengirim dia ke rumah keluarganya di bagian utara Malaysia.

"Dia merasa seperti bola yang ditendang-tendang," kata ayah Kartika, Abdul Muthalib Shukarno, kepada The Associated Press. "Dia sangat lelah dan tidak suka dengan penundaan ini. Dia lebih memilih untuk menerima enam pukulan dan mengakhiri segalanya."

Amnesty International, pengacara Malaysia dan beberapa politisi mencela hukuman tersebut, sedangkan kritikus lain telah memperingatkan bahwa hal itu akan menodai citra Malaysia sebagai sebuah negara moderat. Para pejabat Islam mempertahankan pendapatnya bahwa hukuman tersebut diperlukan untuk menjunjung nilai-nilai Islam - mengabaikan ketegangan antara pihak konservatif dan liberal dan unsur-unsur sekuler dalam masyarakat.

Bir, anggur dan minuman keras secara luas tersedia di toko-toko, bar dan restoran di Malaysia, tidak seperti di negara-negara Islam yang lebih ketat seperti Iran dan Pakistan. Umat Kristen, Hindu, Sikh dan minoritas lainnya di Malaysia bebas untuk mengkonsumsi alkohol namun hukum Syariah melarang Muslim - yang membentuk 60 persen dari 27 juta penduduk - untuk minum, walaupun ada minoritas Muslim yang masih minum meski struktur agama melarang.

Polisi moral Islam - aparat penegak Islam dari Departemen Agama - menangkap Kartika dalam sebuah penggerebekan saat minum bir di sebuah hotel di resor pantai di Cherating, di negara bagian Pahang pada bulan Desember 2007. Kartika dijatuhi hukuman enam kali cambukan tongkat rotan oleh pengadilan Syariah bulan lalu, yang dianggap sebagai peringatan bagi umat Islam lain untuk mematuhi aturan-aturan agama.

Hukum Islam menentukan tiga tahun penjara dan dirotan bagi Muslim yang tertangkap minum. Sebagian besar pelaku sebelumnya dikenai denda dan tidak ada wanita yang pernah dirotan.

Polisi moral bukan kekuatan utama di Malaysia, dan sebagian besar masyarakat terkejut terhadap vonis terhadap Kartika.

Mohamad Sahfri Abdul Aziz, seorang legislator negara bagian yang bertanggung jawab atas urusan keagamaan, pada hari Senin di kantor Kejaksaan Agung menyarankan agar hukuman rotan pada Kartika ditunda sampai bulan puasa Ramadhan, yang dimulai hari Sabtu, selesai.

"Hukuman ini tidak dibatalkan," kata Sahfri Mohamad, tanpa menentukan tepatnya kapan akan dilaksanakan.

Pekan lalu, Kartika mengatakan ia menyesal telah minum dan bahkan bersedia untuk dirotan di depan umum untuk mengirim pesan yang jelas kepada umat Islam lain untuk menghindari alkohol. Pihak berwenang mengatakan hukuman rotan harus dilakukan di penjara.

Para pejabat pemerintah tetap diam mengenai masalah itu walaupun media lokal telah melaporkan secara ekstensif. Satu-satunya pribadi terkemuka yang memberikan komentar terkemuka adalah mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Pada hari Senin, ia mendesak pihak berwenang untuk memeriksa ajaran Islam untuk menentukan apakah akan sesuai untuk merotan Kartika karena minum.

"Apakah mungkin bahwa hakim telah tidak adil atau keliru dalam pertimbangannya? Apakah tidak ada ruang dalam Islam untuk belas kasihan terhadap orang yang melakukan kesalahan untuk pertama kalinya?" tulis Mahathir dalam blognya yang banyak dibaca.

Chandra Muzaffar, presiden dari sebuah think tank Malaysia, International Movement for a Just World, mengatakan perhatian internasional pada kasus Kartika bisa "menyediakan amunisi" bagi beberapa orang untuk mengkritik kapasitas Malaysia untuk toleransi beragama.

"Pada awalnya, dia tidak seharusnya kena pukul," kata Chandra. "Apa yang harus kita lakukan adalah menasihati dia. Hukuman psikologi ini adalah kutukan bagi masyarakat Muslim, dan kita harus menghindarinya."

Pejabat Islam mengukuhkan pendapat kalau tujuan merotan untuk mendidik bukan menghukum. Mereka mengatakan tongkat rotan yang seharusnya digunakan pada Kartika lebih kecil dan lebih ringan daripada yang digunakan untuk laki-laki, dan dia akan tetap berpakaian.

Laki-laki yang dihukum karena kejahatan seperti perkosaan dan penyuapan di Malaysia dikenai hukuman pukul di pantat mereka, sehingga meninggalkan bekas luka permanen.

Tongkat rotan yang digunakan dibuat dari tanaman kelapa biasa. Mereka telah digunakan selama puluhan tahun untuk hukuman korporal di negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Brunei.

Secara terpisah Senin, pembuat undang-undang negara Hassan Ali mengatakan bahwa para pejabat di pusat negara bagian Selangor dekat Kuala Lumpur, meningkatkan upaya untuk mencegah minum dengan memberdayakan para pejabat masjid untuk menangkap umat Muslim yang mengkonsumsi minuman keras di tempat umum, seperti diberitakan situs The Star.

Next Story : Teolog Norwegia Pemimpin Baru WCC

Terpopuler

Headlines Hari ini