Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Natal di Betlehem Dirayakan Sederhana


Posted: Dec. 25, 2004 17:23:54 WIB

Perayaan Natal tahun ini di Bethlehem yang terletak di wilayah otonomi Palestina tidak gegap gempita. Dekorasi maupun lampu-lampu Natal di kota kelahiran Yesus tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Wali Kota Bethlehem Hanna Nasser mengatakan, hal itu dilakukan sebagai respek terhadap mendiang Pemimpin Palestina Yasser Arafat yang meninggal November lalu. Lampu Natal hanya dinyalakan di Taman Palungan sementara bagian kota yang lain tidak didekorasi.

Beberapa warga setempat yang diwawancarai menuturkan, perayaan kali ini dalam suasana kelam tetapi memungkinkan penduduk Bethlehem lebih memfokuskan diri pada aspek religius dari Natal. Memang pada periode sebelum intifada suasana menjelang Natal selalu meriah.

Perayaan Natal di sini menarik puluhan ribu turis asing tetapi sejak kekerasan merebak, jumlah turis yang datang menurun drastis. Karena itulah untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Palestina dan Israel berusaha mempromosikan kembali agar turis mau datang ke sana dengan jaminan kedua pihak sama-sama berusaha mewujudkan ketenangan di Bethlehem.

"Kami mengatakan kepada setiap orang bahwa mereka bisa datang dengan bebas ke Bethlehem dan Jerusalem," tukas Menteri Pariwisata Palestina Mitri Abu Aitah dan Menteri Pariwisata Israel Gideon Ezra setelah keduanya bertemu pertengahan Desember.

Warga mengatakan kepada AsiaNews bahwa dalam beberapa hari terakhir perjalanan ke Bethlehem dan Jerusalem sudah dipermudah. Pos pemeriksaan lebih sedikit, antrean pendek dan warga Palestina yang bekerja di Israel lebih mudah mendapat pas masuk.

Tapi diharapkan lebih banyak orang Kristen dari berbagai belahan dunia berdatangan. "Bayangkan Kota Bethlehem tanpa orang Kristen," tukas Nasser.

Sebanyak 2.400 orang dari 40.000 penduduk di Kota Bethlehem dan wilayah sekitarnya meninggalkan kota sejak intifada kedua merebak pada tahun 2000.

"Kalau tidak ada terobosan cepat dalam proses perdamaian maka akan semakin banyak yang pergi dari sini," kata Nasser yang mengakui hidup dalam pendudukan merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan.

Bethlehem tidak lepas dari nama Arafat. Untuk meneruskan tradisi yang dilakukan mendiang Arafat, pemimpin sementara Palestina, Mahmoud Abbas lah yang menggantikannya untuk hadir di perayaan Natal Bethlehem.

Kedatangan Abbas mengikuti kebiasaan yang dilakukan Arafat.

Sejak 1995, setelah Perdamaian Oslo ditandatangani di Camp David (1993 dan 1994), setiap Natal, Arafat menapaki kota suci Bethlehem. Dia menggendong putrinya dan membaringkannya di atas palungan Yesus sambil mengutip dengan lantang Injil Lukas: "Segala puji bagi Allah di Tempat yang Maha Tinggi dan perkenanNya bagi umat manusia!".

Ia bergandengan tangan dengan isterinya sebagai tanda solidaritasnya kepada umat Kristen Palestina. Media massa dunia menempatkan pernyataan-pernyataan Arafat dari Bethlehem sebagai berita utama.

Ketika menjelang Natal 2001, Israel melarang Arafat memasuki Bethlehem untuk menghadiri misa Natal, dia pun menentang keras. Larangan ke Bethlehem dianggap arogan. Misa tengah malam biasanya dilangsungkan di Gereja Santa Catherina di Bethlehem yang bersebelahan dengan Basilica Nativity. Untuk mencapai gereja Arafat harus menyeberang wilayah Israel. Arafat pun bersikeras mengunjungi kota kelahiran Yesus itu walaupun harus berjalan kaki! Hambatan pun ditebas untuk menghargai tradisi umat lain.

Solidaritas memang selalu dijaga Arafat. Ia menyambut kedatangan Paus Yohannes Paulus II Kota Bethlehem. Arafat langsung menyematkan medali kepada Paus yang memang mengidam-idamkan untuk datang ke sana. Paus pun menerima tanah Palestina yang diberikan seorang anak dan menciumnya (tanah) tanpa memikirkan penciuman tanah itu bisa memprovokasi kemarahan politisi Israel.

Harian lain di Jerusalem Al Ayyam menyebut pernyataan dan tindakan Paus di Bethlehem menunjukkan dukungan Vatikan atas hak nasional Palestina.

Paus juga datang ke kamp pengungsi tempat jutaan pengungsi Palestina menetap. Mereka tersingkir saat pembentukan negara Israel 1948 dan selama perang Arab-Israel.

Arafat telah menjalin persahabatan yang panjang dengan Paus Yohananes Paulus II. Pertemuan mereka bahkan telah berlangsung lebih 10 kali. Yang kesepuluh di kediaman musim panas Paus di Kastil Gandolfo dekat Roma.

Next Story : Pimpinan HKBP Akan Hentikan Tuntutan Kasus Penusukan Jemaatnya

More news in church

Tema Pesan Natal Bersama Antara PGI - KWI 2010

Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12) ...

Terpopuler

Headlines Hari ini