HOME Church General
: : VIEW PAGE

Memaknai 100 Tahun Goa Maria Sendangsono

Saturday, Oct. 16, 2004 Posted: 8:00:58PM PST

Kamis (14/10), tempat ziarah Goa Maria Sendangsono yang terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, begitu ramai. Sejumlah mobil, minibus, dan sepeda motor berjejer parkir di salah satu halaman salah seorang warga setempat.

Bulan Mei dan Oktober seperti sekarang ini merupakan bulan Maria bagi umat Katolik. Hanya saja, seperti dikatakan Martinus Marsik, penduduk Dusun Semagung yang juga menjabat Ketua Paguyuban Tani Sendang Mekar, pada dasarnya Sendangsono terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke sana.

"Ini sesuai dengan misi dan visi awal Sendangsono bahwa Sendangsono akan menjadi sumber hidup dan penyegaran (iman) bagi seluruh umat beriman," kata Romo Ketua Paroki Promasan Issri Purnomo Murtiyanto PR.

Kenyataan itu dipertegas dengan catatan sejarah Sendangsono sendiri. Catatan terkait memperlihatkan, Sendangsono awalnya merupakan tempat pemberhentian (istirahat sejenak) para pejalan kaki dari Kecamatan Borobudur (Magelang) ke Kecamatan Boro (Kulon Progo), atau sebaliknya. Tempat itu banyak dikunjungi karena keberadaan sendang (mata air) yang muncul di antara dua pohon sono.

Kesejukan dan kenyamanan tempat itu ternyata juga dimanfaatkan untuk bertapa oleh sejumlah rohaniwan Buddha dalam rangka mensucikan dan menyepikan diri. Nilai spiritualistik muncul dan menguat seiring dengan adanya kepercayaan yang didasarkan pada suatu legenda bahwa tempat itu juga dihuni Dewi Lantamsari dan putra tunggalnya, Den Baguse Samija.

Dari situ bisa dilihat bahwa sebenarnya nilai rohani Sendangsono sudah terbangun sebelum Gereja Katolik berkarya di tempat itu.

"Nilai pluralitas inilah yang seharusnya tetap dijaga, dilestarikan, dan disesuaikan dengan perkembangan zaman," kata Romo Issri.

KEBERADAAN Sendangsono tak luput dari peran Romo van Lith SJ, rohaniwan asing yang lama tinggal di Pulau Jawa. Hal itu juga menandakan bahwa Sendangsono tidak bisa dilepaskan dari lingkaran sejarah Gereja Katolik di Pulau Jawa mengingat Romo van Lith sendiri merupakan salah satu rohaniwan yang menyebarkan ajaran Katolik di Pulau Jawa.

Pada 14 Desember 1904 silam Romo van Lith membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua pohon sono. Dua puluh lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1929, Sendangsono dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan atas usaha Romo JB Prennthaler SJ.

Namun, Sendangsono zaman sekarang ternyata menyimpan satu persoalan lingkungan yang cukup mengkhawatirkan, khususnya bagi petani. Ancaman bencana kekeringan yang rutin melanda lahan pertanian per tahun selalu membayangi dan mengkhawatirkan para petani. Parahnya, kekeringan itu juga terjadi pada sejumlah mata air di sekitar Perbukitan Menoreh.

"Krisis air ini tidak hanya akan mengancam petani Sendangsono, tetapi juga petani Perbukitan Menoreh pada umumnya. Ada pepatah, lungo menyang belik, ning malah kecelik (pergi ke mata air, namun kecewa) karena tidak ada airnya. Diperkirakan, debit air di Sendangsono tidak akan cukup untuk mengairi lahan pertanian dalam jangka dua puluh tahun ke depan," kata F Nangsir Soenanto, petani setempat.

Kenyataan seperti itu cukup menyentak kalangan petani di sana. Akhirnya, petani yang tinggal di Sendangsono pun bersepakat melakukan gerakan konservasi alam di sekitar Perbukitan Menoreh. Diharapkan, gerakan penyelamatan lingkungan yang dipelopori petani Sendangsono tersebut akan menyebar dan meluas ke berbagai daerah di Perbukitan Menoreh.

Selanjutnya, rangkaian gerakan lingkungan dilaksanakan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Sendangsono ini. Momen 100 tahun tersebut dianggap petani dan warga setempat sebagai momen sakral.

"Gerakan ini sebenarnya sudah dimulai sejak 14 Desember 2003, yaitu dengan penanaman 100 bibit pohon beringin. Seratus bibit itu melambangkan usia Sendangsono sendiri. Kemudian, tanggal 17 Oktober mendatang petani juga akan melakukan gerakan simbolis lain, misalnya melepas sidat dan lele. Semuanya merupakan simbol harapan bahwa air di Sendangsono tidak akan pernah berhenti mengalir," kata Romo Kirdjito, Romo Paroki Sumber, Kabupaten Magelang.

Ancaman kerusakan lingkungan, kekurangan air yang berakibat pada semakin menyusutnya lahan pertanian, harus mulai dipikirkan. Dampak lingkungan itu secara langsung juga akan berakibat pada keberadaan tempat ziarah Sendangsono itu sendiri. "Kata sendang itu sendiri kan berarti air. Kalau mata air di Sendangsono itu berhenti mengalir, makna Sendangsono itu akan sedikit pudar," kata Romo Kirdjito lagi.

Peringatan 100 tahun Sendangsono, yang puncaknya jatuh tanggal 17 Oktober 2004 besok, kiranya dapat menjadi sebuah perenungan. Perenungan untuk menentukan arah Sendangsono ke depan, dan juga untuk mengangkat derajat kaum lemah dan miskin. Dalam konteks itu, petani Sendangsono merupakan sebuah analogi dan percontohan yang tepat.

"Suara, keluh kesah, dan harapan petani setidaknya harus menjadi bagian dari perenungan kita dalam pesta satu abad Sendangsono ini," kata Romo Kirdjito.

Dengan adanya persoalan lingkungan yang menjadi kekhawatiran petani, sebaiknya dipikirkan langkah dan solusinya. Sebab, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh petani dan warga setempat, tetapi juga bagi peziarah.

Ikatan batin dan emosional dengan Goa Maria Sendangsono yang selama ini sudah terbangun juga terancam pudar. Sebab, menjaga keberadaan Sendangsono beserta seluruh rantai keterkaitannya merupakan tugas bersama. Dan, menjaga kelestarian Sendangsono juga dapat dimaknai bahwa kita sudah menjaga satu warisan sejarah dan budaya yang tak ternilai harganya. (J04)

KCM

>